Senja Terakhir Untuknya
10:39:00Tak terasa, 15 tahun sudah aku hidup di dunia ini. Mungkin aku terlahir tak seberuntung orang lain. Aku terlahir untuk selalu diam dan mengurung diri di kamarku yang lebih tepat kusebut penjara. Mungkin karena aku mempunyai penyakit. Tapi, aku tak pernah tau penyakit apa yang bersarang dalam tubuhku. Setiap hari aku harus meminum obat yang tak jelas itu obat apa. Aku tidak bisa bermain seperti teman temanku. Aku hanya bisa memandang mereka dari jendela kamarku. Aku tak tau mengapa orangtuaku melarangku untuk bermain seperti teman temanku. Seberapa berat penyakit yang kualami pun aku tak tau. Yang kurasa setiap hari selalu sama, aku sehat sehat saja.
Matahari mulai menyapaku pagi itu, pagi yang indah, sangat
bertentangan dengan hatiku yang begitu sepi. Aku beranjak dari tempat tidurku
dengan malas, sangat malas. Aku harus memasang senyum palsu pada guruku yang
setiap hari mengajarku disini, di rumahku. Aku tidak bersekolah seperti teman
temaku yang lain, aku tidak bisa merasakan kegembiraan seperti teman temanku,
bermain sepulang sekolah, belajar bersama, jalan jalan diakhir pekan. Aku hanya
bisa memandang indahnya senja, ya itulah hal yang kulakukan setiap hari,
melukis saat senja tiba.
“Bu Wita udah datang, sayang. Cepat kamu siap siap” itu adalah suara
ibuku. Setiap pagi dia mengingatkanku dengan hal itu. Setiap pagi aku harus
belajar dengan bu Wita, guruku yang sangat membosankan.
“Iya, mah, bentar lagi kok” jawabku kesal.
Satu persatu mulai kuturuni tangga. Rasanya tangga ini sudah malas
kulalui, seolah mereka berkata “sudah, pergilah dari rumah ini, carilah apa
yang kau inginkan”. Tapi, aku tak bisa meninggalkan semua ini, karena aku tidak
punya siapapun diluar sana.
Ku melihat seseorang yang tak asing lagi duduk di sofa dengan buku
buku tebal, itu adalah bu Wita, guruku. “Selamat pagi Reya, cantik sekali kamu”
sapanya yang kurasa itu adalah kebohongan belaka. Karna, pagi ini aku tak mandi
dan masih memakai piyamaku. “Reya, kenapa masih pake piyama, apa kamu gak mandi
dulu?” tanya ibuku setengah kesal. “Untuk apa? Yang kutemui tiap hari hanya
seorang guru saja, gak perlu mandi juga gakpapa” jawabku tak kalah kesal. ”Aku
pengen sekolah kaya anak normal yang lainnya, bu. Kenapa aku gak bisa sekolah?
Apa aku cacat? Sekarang ibu lihat aku, apa yang salah denganku? Aku sama
seperti mereka. Aku juga berhak untuk sekolah, bu” aku menangis,begitupun
ibuku. Segera aku berlari menuju kamarku. Aku menangis.
Entah keajaiban apa yang
terjadi, seketika itu pula hujan turun. Hal yang ku benci. Hujan pernah
mengambil indahnya senja dariku. Aku benci hujan.
*****
“Sayang, makan dulu nak, dari tadi pagi kamu belum makan” ibuku
memanggilku dari balik pintu. Aku terbangun dan segera ku lihat jam sudah
menunjukan pukul 7 malam. Sial, aku kehilangan senjaku hari ini gumamku
kesal.
Aku membuka pintu dan melihat ibuku berdiri dengan wajah penuh
kasih. Pancaran matanya menunjukan bahwa dia sangat menyayangiku, aku tau itu.
Tapi mengapa dia selalu melarangku keluar dari rumah? Apa itu cara dia
mengungkapkan rasa sayangnya padaku?
“Setelah makan malam nanti, ibu sama ayah mau bicara sama kamu”.
Degg! Aku takut papaku memarahiku atas sikapku tadi pagi. Tapi, apa salah jika
aku menuntut hak-ku yang tak mereka berikan padaku? Apa aku salah?. Mendengar
ucapan ibuku tadi, aku hanya mengangguk.
Kulihat makan malam hari ini berbeda rasanya. Kulihat ayahku sudah
duduk di ruang makan. Ayahku menoleh padaku, dan tersenyum manis. Aku bingung.
Mengapa dia tidak memarahiku karna sikapku tadi pagi.
Makan malam kami lalalui dengan penuh keheningan. Tak satupun kata
yang terucap dari bibir kami. Hanya sesekali terdengar suara sendok yang beradu
dengan piring. Sangat sunyi. Ingin sekali aku mengakhiri makan malam ini.
Makan malamku sudah usai. Aku ingin segera kembali ke kamarku dan
segera tidur untuk sedikit menenangkan kegelisahanku ini. Aku beranjak dari kursiku dan ibuku menahanku
untuk tetap duduk. Ya, apa boleh buat aku kembali duduk di kursi yang mulai
terasa panas itu.
Aku takut dengan apa yang akan diucapkan mereka padaku. “Sayang”
ayahku memecah keheningan malam itu. Udara saat itu berubah menjadi dingin,
seolah mereka mendukung ayahku untuk berbicara. “Apa benar kamu ingin
sekolah?”. Aku hanya tertunduk dan mengangguk dengan pertanyaan ayahku itu.
“Apa kamu mampu sekolah seperti mereka diluar sana?” ada sedikit keanehan dalam
pertanyaan ayahku yang ini. “Aku yakin, aku mampu sekolah seperti mereka”
jawabku tegas. Ayah dan ibuku hanya tersenyum. “Ayahmu sudah mendaftarkan kamu
di SMA Kartika. Mulai besok, kamu sudah bisa sekolah disana” jelas ibuku. Aku
sangat gembira mendengar itu. Segera aku berlari menuju kamar dan mempersiapkan
untuk hari pertamaku sekolah yang “nyata”, seperti teman temanku.
*****
Hari ini, saat mentari mulai menyapa, aku sudah rapi untuk sekolah
pertamaku. Aku bergegas menuju ruang makan untuk sarapan. Pagi ini adalah pagi
terindah dalam hidupku. Aku sudah menghafal kalimat untuk memperkenalkan diri
pada teman temanku.
*****
“Perkenakan,
namasaya Reya, saya murid baru di sekolah ini. Senang bertemu kalian” ucapku
mantap. Pak Gito, wali kelasku mempersilakanku untuk segera duduk. Aku
memandang seisi kelas ini, aku memilih duduk disamping seorang gadis yang
sukses menarik perhatianku sejak pertama aku memasuki ruangan ini. Dia terlihat
ramah dan tersenyum saat aku duduk disampingnya. “Namaku, Lia” ucapnya
memperkenalkan diri dan tersenyum. Aku membalas senyuman itu.
Jam
pelajaran kali ini adalah bahasa inggris, dan tepat setelah ini adalah
pelajaran olahraga, pelajaran yang belum pernah ku pelajari. Hingga saat ini,
aku belum pernah merasakan apa itu olah raga.
Saat
yang kutunggu kini sudah tiba, aku segera mengganti seragamku dengan kaos
olahraga. Aku ingin mencoba semua bidang olahraga yang dipelajari disekolah
ini. Aku memulai olahraga pertamaku dengan melakukan pemanasan terlebih dulu,
setelah itu aku harus lari mengelilingai lapangan sebanyak 2 keliling, seperti
teman-temanku yang lain.
Satu,
dua, tiga,empat, suara hitungan itu saling bersahutan seolah menjadi sebuah
melodi yang indah, begitulah yang kudengar. Setelah cukup melakukan pemanasan,
aku mulai lari mengelilingi lapangan bersama teman-temanku. Putaran pertama
kulalui dengan mudah. Tapi, pada putaran kedua, mulai ada yang aneh denganku,
kepalaku terasa sangat berat, pandanganku kabur. Semakin lama, kepalaku makin
terasa pusing, dan................
*****
Mata
ini terasa sangat berat untuk kubuka. Sayup sayup kudengar suara yang kurasa
tak asing lagi. “Lakukan yang terbaik untuk anak saya. Saya mohon” itu suara
ibuku, aku tau itu. “Baik, bu” jawaban itu sangat singkat, itu adalah suara
laki laki, tapi itu bukan ayahku, suara itu sangat asing di telinga ini.
Walaupun aku tak bisa membuka mata
ini tapi, telinga ini masih bisa mendengar. Sejenak kupikirkan semua percakapan
ibuku dengan laki laki tadi. Apa yang terjadi denganku? Kembali kepala ini
sangat pusing, dadapun mulai terasa sesak, dan --------------
*****
Aku membuka mataku. Kurasa ini sudah senja, karena lembayung mulai
memeluk bumi ini. Aku melihat seluruh ruangan ini, hingga tersadar bahwa ini
bukan kamarku, ini rumah sakit. Aku melihat ayahku berdiri dan tersenyum
padaku. Perlahan air mata ayahku mulai berjatuhan. Aku tak melihat ibuku. “Ibu
dimana, yah?” ayahku hanya bisa
tersenyum dengan air mata yang terus berjatuhan. “Ibu dimana, yah?” aku
mengulangi pertanyaanku, kali ini aku ikut mengangis. “Ibumu sangat dekat
denganmu, ibumu ada disini” ayahku membimbing tanganku dan berhenti di dadaku.
“Ibumu akan selalu menjagamu dengan hatinya, ibumu sangat menyayangimu”. Aku
menangis sejadi jadinya. Aku sangat terpukul mendengar penjelasan ayahku.
Mengapa ibu rela memberikan hatinya untukku?? Mengapa??
Aku segera digendong ayahku untuk menaiki kursi roda. Kemudian,
setela aku keluar dari rumah sakit, aku menaiki mobil ayahku yang sudah bisa
kutebak tujuan kami, pemakaman ibuku.
Kuturuni mobil dan berpindah kembali dengan kursi roda yang sedari
tadi kugunakan untuk keluar dari rumah sakit. Aku telah sampai disini, tempat yang seharusnya menjadi
tempat peristirahatanku. Tapi, ibuku melarangku untuk beristirahat disini. Dia
menggantikanku untuk beristirahat disini.
Tangisku semakin menjadi ketika aku berada tepat didepan tempat
yang seharusnya adalah tempatku. Aku tak bisa berkata apapun, aku hanya bisa
menangis menyesali dengan apa yang telah kulakukan. Mungkin senja ini adalah
senja tak takkan pernah kulupakan selama hidupku. Senja tersakit, senja yang
tak kuharapkan ini benar benar terjadi. Senja terakhir untuk ibuku. Kado
terbesar yang ibuku berikan padaku, sebuah kehidupan yang lebih lama dari
seharusnya. Maafkakan aku ibu.

0 komentar